Masa kecilku, SD lebih tepatnya, usai bersekolah
TK di TK ABA II yang sekarang sudah pindah tempat beberapa meter, aku
bersekolah di MIN Kepatihan Bojonegoro yang waktu itu tidak begitu jauh dari
rumahku, tepatnya di Jl. Dr. Soetomo Gg. Wates (kampus selatan) dan Jl.
Panglima Sudirman (kampus utara). MIN Kepatihan adalah sebuah madrasah ternama
di Bojonegoro yang sudah maju sehingga banyak orang tua berebut menyekolahkan
anaknya di sekolah ini. Kelas 1B, 2B, 3B, 4B, 5B, 6B kulewati bersama
teman-teman dengan indah, indah sekali. Kelas 1B berada di kelas pojok sendiri
yang begitu gelap, papan hitam yang dibersihkan dan dicuci satu tahun sekali,
seorang guru Bu Mahfudzoh yang sekarang aku tak tahu apa Beliau masih mengajar
disana atau tidak. Kelas 2B diajar siapa ya? Aku sudah lupa, satu kelas berisi
41 anak, begitu ramai, tempat duduk di belakang, di bagian tengah agak depan
ada sebuah tiang yang kadang menghalangi pandangan. Seringkali aku duduk dengan
siswi di belakang. Kelas 3B, aku mulai ikut kursus komputer yang harus membayar
entah berapa ribu kala itu. Belajar komputer PC Intel Pentium 4, komputer
tercepat di masanya, meski media penyimpanannya masih terlampau kecil, aku
diberi satu buahb disket Floppy Disk 3 ½ yang kapasistasnya tidak seberapa.
Suka sekali bermain game dan belajar Microsoft Word. 3 tahun ini aku belajar di
kampus utara. Setiap pagi selama 3 tahun penuh aku bersama teman-teman-selain
hari senin karena upacara bendera-kami harus mengikuti Senam Kesegaran Jasmani
atau biasa dikenal dengan istilah SKJ sampai-sampai aku beli CD nya dan kuputar
dan kutirukan di rumah agar semakin hafal. Setiap Senin pagi harus berangkat
pagi karena ada upacara bendera. Biasanya yang menjadi petugas upacara bendera digilir
dari kelas 1A terus sampai 3B. Sekali menjadi petugas upacara, aku menjadi pembaca
UUD 1945 dan ini berlangsung sampai kelas 6B.
Kelas 4B aku pindah ke MIN kampus
selatan. Ketika suatu saat pernah menjadi petugas upacara bendera aku menjadi
ajudan, pembaca UUD 1945, pembaca do’a atau bahkan pemimpin upacara. Betapa
gugupnya aku saat harus menjadi pemimpin upacara, berdiri di depan semua kawan,
berhadapan langsung dengan Kepala Sekolah atau yang mewakilinya. Kursus
komputer masih saja aku ikuti yang kala itu ternyata gurunya adalah Bu Iin yang
kutahu beberapa waktu sesudah itu kalau itu saudaraku sendiri karena menikah
dengan saudara laki-lakiku dari paman saudara ibuku. Kelas 5B, ketika liburan
semester, aku beranikan diri untuk sunat. Kukenal satu guru yang begitu kejam
wajahnya, yaitu Bu Nur guru Matematika atau Pak Dimyati guru Matematika juga
yang sering kami juluki Pak Jojon karena celananya selalu dipakai begitu tinggi
mirip artis Jojon. Ada pula Bu Mukayyah, seorang guru kesenian yang kalem yang
sampai saat ini, setiap hari raya Idul Fithri bersama teman seangkatan
bersilaturahim ke rumahnya. Atau kepala Sekolah dari Pak Njoto Maliki sampai Bu
Masmudah yang juga masih sering aku kunjungi. Atau Bu Eni yang punya tahi lalat
di sisi kiri bawah bibirnya. Atau Bu Nurma yang begitu cantik mempesona, guru
Bahasa Arab yang ternyata istri takmir masjid Jami’ dekat pondokku ketika SMP. Atau
Pak Imam Waluyo guru IPA yang selalu serius mengaar, atau Pak Soekarjo guru
Bahasa Daerah yang terkenal kereng, atau Miss Isa guru Bahasa Inggris
yang berbadan gemuk dan begitu keren ketika mengajar, atau Pak Syaifuddin guru
agama yang menjulukiku Pak Kyai kala itu, pendamping kala aku dan teman-temanku
berkompetisi di MIN Malang 1 yang ketika itu sedang merayakan ulang tahunnya
yang lupa pada bilangan berapa.
Kelas 6B yang dipenuhi dengan jam
tambahan sehingga aku seringkali harus membawa makanan bekal atau beli di dekat
sekolah sehingga harus mengorbankan ngajiku di TPQ Al Huda dekat rumahku. Semasa
SD aku pergi mengaji setiap sore pukul 2 sampai pukul setengah 5 sore. Awalnya,
sebelum pindah ke rumahku sendiri, ketika masih di rumah kontrakan aku mengaji
di TPA Baiturrahman Klangon, seingatku, aku punya teman ngaji bernama Zaini
yang rumahnya sangat dekat dengan tempat mengaji. Aku belajar mengaji Iqro’ 1,
2, 3, 4, 5, 6, dan akhirnya Al-Qur’an sampai akhirnya aku diwisuda pada Maret
2003 seingatku di pendopo Pemkab setelah mengikuti munaqosyah atau ujian
wisuda. Mengajiku kulanjutkan di TPQ Al Huda ketika aku sudah pindah rumah, dan
akhirnya juga diwisuda lagi di tempat yang sama entah tahun berapa, 2005
mungkin.
Ketika masih mengaji di Klangon, aku
berangkat dengan sepeda Subaru merah kecil. Aku memakai seragam kuning pada
hari Senin dan Selasa, biru hari Rabu dan Kamis, dan seragam batik ketika hari
Jum’at dan Sabtu. Biasanya aku berangkat pukul 14.00 dengan uang saku 300
rupiah untuk membeli mainan. Sepulang dari mengaji aku suka kebut-kebutan
karena memang jalan kampung dan sepi sekali. Lalu, aku akan membonceng adikku
tercinta dengan sepeda kecilku membeli mie remez di warung depan masjid
Sumbang. Lalu biasanya aku menikmatinya sambil menonton Tom and Jerry di ruang
tengah.
Ketika sudah pindah ke rumah di Ledok
Kulon, aku berangkat mengaji pada sore hari. Ada ustadz Ali dan siapa lagi aku
sudah lupa. Usai itu, aku membeli jamu dan biasanya makanan ringan, lalu
bergegas ke rumah dan memakannya sambil menonton tv. Tetapi, ketika mendekati
UNAS MIN Kepatihan, ngajiku terpaksa aku tinggalkan untuk mengikuti pelajaran
tambahan di siang sampai hari menjelang petang. Kelas 3 SD aku sudah mulai
membawa sepeda sendiri ke sekolah. Hal itu berlangsung sampai kelas 6.
Pernah suatu saat, di MIN Kepatihan, temanku
yang dipacok-pacokno datang barengan. Ada si Firda dan si Alfi, Helmi dengan
Cintya, atau si Faishal Akbar dengan
Norma Nurdiana, atau si Fanani dengan Yumna. Kalau ingat masalah cinta waktu SD
pasti lucu banget. Si Addin kala itu dianggap pacarnya Ni’am karena Ni’am
setiap hari selalu mengganggunya. Aku pun punya cerita sendiri, aku suka dengan
Ria, nama lengkapnya Rizqi Fitria Senja Paramita. Nama yang begitu panjang tak
sesuai dengan postur tubuh yang dimilikinya saat itu, kecil, tapi wajahnya yang
selalu menyunggingkan senyum selalu tampak cantik dan ayu. Saat SD, kami sering
sepakbola bersama sampai di masa akhir kami hendak perpisahan ada kish yang
begitu menegangkan. SD ku kini tampaknya tak begitu lagi bersinar, tapi
bagaimana pun juga aku tetap bangga dengan almamaterku itu.

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah comment .. Kapan-kapan kunjungi lagi ya ..,.