Tak tahu kenapa, rasa ini kembali muncul menjalar ke setiap jiwaku, mengalir bersama aliran darahku dan juga hembusan nafasku. CINTA. Oh, betapa indah kata itu. Kian hari, rasa padamu kian menjadi, tak tahu kenapa, setiap kali kuamati fotomu, kulihat senyummu, kuperhatikan gerak tingkahmu, kuikuti postinganmu, statusmu, tulisanmu, dan segala hal yang berhubungan denganmu. Akhir-akhir ini, komunikasi denganmu semakin mengalir saja. Karena akhir-akhir ini kamu sering OL FB sehingga kita dapat lebih sering berbicara, mendiskusikan berbagai hal, menulis, psikologi, agama, dsb. Baru aku tahu kalau dirimu adalah anak bungsu alias terakhir, kakamu memang berada di kampus yang sama dengan kita kuliah, bahkan satu fakultas denganku meski beda semester. Ayahmu bekerja di luar negeri, Arab Saudi tepatnya. Aku lupa apa profesinya, dan ibumu menjaga toko di depan rumahmu sebagaimana yang sering kamu ceritakan tempo hari padaku. Ternyata, ibumu tak merestui dirimu untuk mengambil jurusan psikologi di kampus islam ini, katanya karena ibumu dulu ingin sekali kuliah di jurusan syari'ah, tapi karena halangan satu dan lain hal, semua itu tidak jadi terlaksana dan akhirnya meminta anaknya untuk melanjutkan perjuangan ibunya. Ya memang sebuah dilema katamu. Tetapi, keinginan dan tekadmu yang keras malah membuatmu untuk tidak begitu saja menerima keputusan ibumu dan akhirnya memutuskan untuk tetap masuk jurusan psikologi di kampus ini. Tapi kuamati sejauh ini, kamu baik-baik saja dan malah terlihat sangat menikmati jurusan pilihanmu sendiri, meski beberapa kali kamu meminta bantuanku untuk menyelesaikan tugas ini dan itu. Ok, tak apalah, aku pernah bilang kalau aku akan selalu siap untuk membantumu selama aku masih mampu membantu. Kita memang sedikit berbeda, kamu tampak sangat sastrawan sekali, tampak dari puisi dan cerpenmu yang begitu bagus diksi dan sangat menyentuh hati, walaupun aku pun memiliki hal itu, hanya tak sebanyak yang kau miliki. Aku pintar bahasa arab, sedikit masalah agama, dan juga teknologi, sehingga kita saling melengkapi. Sempat terpikir olehku, kalau saja kita benar-benar disatukan suatu hari nanti, ... Ah, terlalu berkhayal. Tapi hal itu bukan tidak mungkin terjadi. Kita sebagai hambanya tentu harus senantiasa berusaha, walau hasil akhir ditentukan oleh Allah SWT.
Wahai pujaan hati yang telah disiapkan olehNya, aku berharap semoga engkau jaga dirimu baik-baik sampai bertemu denganku. Satukan kami dalam kaimah cintamu demi menggapai cinta abadiMu suatu saat nanti di tempat terindah, Syurga.
MUHAMMAD AMIN
MUHAMMAD AMIN

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah comment .. Kapan-kapan kunjungi lagi ya ..,.