Dwi Nurmala Rahmawati. Satu nama yang beberapa bulan terkahir ini terus kusebut. Tak tahu kenapa. Entahlah. Awalnya hanya ketika dia butuh bantuanku untuk menerjemahkan dan juga mengoreksi nahwu sharaf dari terjemahan proposal penelitiannya seputar evaluasi hasil belajar. Meski diriku tidak sebegitu paham mengenai hal itu, tapi mungkin karena dalam hati ini ada kehendak untuk membantunya dengan tulus, maka kulakukan apa yang harusnya kulakukan sebagai seorang pria.
Berlalu beberapa saat, kami masih terus berdiskusi tentang hal-hal seputar proposal skripsi dan juga sampai pengerjaan skripsi. Seringkali kutemani dia untuk sekadar mengoreksi kesalahan tulisnya. Menurutku dia adalah sosok yang tak mudah menyerah. Betapa tidak, ia berjuang siang malam untuk menerjemahkan skripsinya. Aku tak tahu, meskipun itu ia kerjakan dengan bantuan google translate, aku tetap salut padanya.
Awalnya, kukira ia akan seminar proposal di bulan yang sama denganku, yakni bulan April. Kucari namanya di deretan jadwal seminar proposal, oh, tak kutemukan namanya sampai pada halaman terakhir. Sedikit kecewa, tapi tak apalah, lagipula aku masih tetapbisa membantunya dan memberi semangat ia sampai ia menyelesaikan skripsi dan juga sidang.
Biasanya, usai seminar proposal, teman-teman yang punya "pacar" akan menyambut "pacarnya" masig-masing di depan pintu, memberikan bunga dan sebagainya lalu akan berfoto berdua. Tapi hal itu tak terjadi pada diriku. Keluar ruang seminar, tak ada yang menyambut, kuberjalan seorang diri. Ah, bukannya aku tak punya teman, kawan, atau "pacar", tapi menurutku dengan begini aku menjadi lebih bebas berekspresi dan juga beristirahat dari penatnya seminar proposal selama setengah jam-an di dalam ruangan.
Satu bulan berikutnya, benar saja kutemukan nama Dwi Nurmala ada pada deretan seminar proposal. Namanya ada di awal. Aku senang bukan kepalang. Ok, aku tunggu ia di depan ruangan pada hari ia seminar proposal. Usai seminar, ia keluar ruangan, kulemparkan senyum padanya dan ia pun membalasnya sambil berlalu begitu saja karena memang seminarnya belum selesai karena baru berhadapan dengan satu penguji. Ia masih harus bertemu dengan penguji 2, kala itu adalah ustadz Ridwan, dosen waliku. Niatnya, aku masih menunggu di tempat yang sama untuk menyambutnya. Kutunggu sampai hari menjelang petang, dan akhirnya aku pulang dengan tangan hampa. Kuhubungi ia tak dibalas dan tak diangkat. Ah, sudahlah, mungkin ia lelah setelah seminar dan ingin beristirahat. Bukankah kita dianjurkan untuk senantiasa berprasangka baik kepada sesama?
Setelah sekitar seminggu tak kuhubungi dia, akhirnya aku kembali WA dia, BBM, sms, dsb. Pagi itu, entah mimpi apa semalamnya, ia minta bantuan untuk mengoreksi terjemahannya dari revisi proposal di perpus pusat. Aku langsung mengiyakannya dan bergegas menuju perpus pusat. Aku tipe orang yang tidak mau mengecewakan pelanggan, siapa pun itu. Aku sampai di perpus pusat lebih awal dari Mala dan kutunggu ia di perpus lantai 2 bagian ruang skripsi.
Beberapa saat kemudian, ia datang. Ah, senangnya hatiku melihat ia datang. Seketika, laptopnya dinyalakan, ditaruh di depanku, ia duduk di sebelahku, lalu aku mengoreksi ini itu sambil bertanya beberapa hal kepadanya untuk memastikan terjemahanku benar sesuai keinginannya. Disana juga kutemukan Hanifah, Efi, Toni, dkk. Sekitar satu jam kami berdua berada disana. Adzan dzuhur memisahkan kami berdua. Aku harus undur diri untuk melaksanakan sholat dzuhur berjama'ah di masjid Tarbiyah. Ia pun keluar perpus sambil kutemani. Jujur, hari itu aku senang sekali.
Kam berdua kembali asyik berkimunikasi lewat WA, BBM, sms, dan beberapa kali telepon. Tatkala pengerjaan skripsi aku jarang bertemu dia. Aku pun juga sama-sama sibuk mempersiapkan skripsiku. Pernah ia kuajak untuk membantu penelitian skripsiku di MANBA di awal Mei. Awalnya aku bingung mau minta bantuan siapa. Tapi, seketika aku langsung terpikir untuk minta bantuan Mala. Alhamdulillah ia mau. Kami berangkat pagi pukul 8 dan sampai di MANBA pukul setengah 10an. Ia membantu memotret penelitianku selama disana. Aku berterimakasih padanya. Sebagai gantinya, aku traktir ia makan siang karena memang sedari pagi kami berdua belum sarapan.
Meski Mala seminar proposal di pertengahan bulan Mei, yang membuat aku salut lagi ia bisa ikut sidang skripsi pada akhir bulan Juni bersamaku. Alhamdulillah. Meski kutahu ia harus bekerja ekstra keras untuk bisa sampai pada sidang itu. Aku pun tak membantu banyak sebelum sidangnya dilaksanakan. Aku sempat menawari bantuan tapi tampaknya dia tidak berminat. Sebelum sidang itu, ia juga sempat pulang ke Pati. Mungkin untuk sungkem dan minta doa restu agar sidangnya lancar. Ia sidang skripsi pada jum'at, 24 Juni 2016 pada urutan terakhir. Aku sendiri sidang skripsi pada Rabu, 22 Juni 2016 selang dua hari lebih awal dari Mala.
Di kala ia akan sidang skripsi aku terus memotivasinya untuk tetap tegar menghadapi segala pertanyaan yang akan diajukan oleh penguji selama sidang. Kutenangkan hatinya dan berkata padanya "semua akan baik-baik saja, banyakin berdoa, pelajari skripsinya dengan maksimal, tenang, dan serahkan hasilnya pada yang di Atas". Aku yakin ia bisa melewati rintangan sidang skripsi yang menghantuinya beberapa hari bahkan beberapa jam sebelum sidang dilaksanakan. Bagiku, itu wajar, tapi jangan sampai berlebihan. Aku lakukan segala hal yang bisa kulakukan untuk membantu melancarkan sidang skripsinya. Aku sambut ia di depan ruang ujian kala itu. Kuberikan selempang bertuliskan namanya, tentu dengan gelar S.Pd.I. yang tersematkan di belakang namanya. Aku berfoto bersamanya sambil kupegang bunga dan tak lupa skripsi yang sudah ia susun. Sungguh, aku sedikit malu kala itu karena memang masih banyak orang disana kala itu. Itu jauh dari rencana awalku yang kukira akan sepi. Maklum, karena sidang skripsi pada hari itu diajukan karena usai sholat jum'at para dosen akan melakukan rapat koordinasi bersama rektor. Ah, sudahklah. Setelah berfoto beberapa kali dan kuucapkan selamat kepadanya kutinggal saja ia karena memang aku harus segera persiapan untuk sholat jum'at. Semoga kau bahagia dengan gelarmu dan sungguh aku siap membantumu untuk revisi skripsimu, jadi jangan takut ya Mal.
Beberapa waktu kemudian, aku sudah mulai jarang berkomunikasi dengan Mala. WA jarang dibalas, BBM bahkan aku sampai harus re-invite, sms juga tak pernah dibalas. Pernah sekali aku bertemu dengannya di warnet ketika aku akan mengeprint ringkasan skripsiku. Aku basa-basi seadanya dan bertanya padanya, namun tampaknya ia tak begitu tertarik untuk melanjutkan pembicaraan. Biarlah, mungkin hatinya sedang tidak tenang dan otaknya sedang sibuk berpikir bagaimana caranya agar revisi ini segera selesai dan dapat acc dari penguji. Usai pertemuan itu, 2 hari kemudian aku harus segera pulang ke kampung halaman, yang kutahu ia akan pulang ke Pati bersama kawan-kawannya dari Pati juga yang sedang kuliah di Brawijaya. Aku titipkan ia kepada Allah, semoga Allah senantiasa menjaganya dimana pun dan kapan pun ia berada. Sampai tulisan ini diposting, aku masih belum bisa menghubunginya barang sedikit pun, padahal ini momen hari raya. Aku hanya ingin meminta maaf, mungkin ada banyak hal yang kulakukan padanya masih kurang berkenan di hatinya, atau bahkan melukai perasaannya, aku sungguh minta maaf. Semoga saja ia sudah memaafkannya. Aku berharap masih bisa bertemu dengannya entah kapan. Ah, andai kau tahu Mal. Tolong kembalikan pesonamu yang sepertinya hari-hari ini kian memudar di pandangan mataku, aku mau melihatnya dari jauh. Bolehkah?
Dari sahabatmu, Muhammad Amin, S.Pd.I.
di kota Angling Dharma, Bojonegoro, Jawa Timur
salam kepada Dwi Nurmala Rahmawati, S.Pd.I.

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah comment .. Kapan-kapan kunjungi lagi ya ..,.