Sore ini aku
berkali-kali di PING oleh Diah Santika. Aku diminta untuk menemaninya belajar
persiapan UTS esok hari. Usai sholat Isya’ kulangkahkan kaki dengan mantap
menuju masjid Tarbiyah. Sesampai disana kami langsung saja belajar tsaqafah al-arobiyah
diselingi dengan canda tawa dan cerita kesana kemari. Maklum, sudah cukup lama
nggak cakap-cakap dengan intens. Dia bercerita kalau sekarang sudah tidak
ngekos lagi. Ia sekarang bersama Bu Mamlu dan ketika ijin malam, maka harus
kembali maksimal pukul 22.00. Sebagai seorang teman tentunya sangat senang
mendengar ia menjadi lebih baik dan mau memperbaiki diri. Sejurus kemudian,
Zian datang bersama Fiqih Vredian, ketua LKP2M. Mereka berdua akan mengikuti
lomba LKTI di suatu tempat.
Dan salah satu
pembicaraan kami adalah mengenai Ma’had Sunan Ampel Al-Aly. MSAA adalah sebuah
ma’had milik UIN Maliki Malang dimana mahasiswa baru wajib berada disana selama
2 semester alias 1 tahun. Kami mulai mengkritisi berbagai kebijakan yang ada di
ma’had. Mulai kebijakan ma’had yang terkesan condong kepada satu golongan.
Teman saya menuturkan bahwa pernah ia ketika monitoring kepada salh satu
musyrifah, teman saya tidak dapat menyebutkan dengan lancar doa qunut. Seketika
itu, musyrifah itu menduga bahwa teman saya ikut aliran Muhammadiyah. Padahal, teman
saya itu netral. Menurut saya, sebaiknya hal-hal khilafiyah perlu
dikesampingkan dan perlu mengingat hal-hal yang fundamentak saja. Pengurus ma’had
saya kira perlu diberikan sebuah wawasan Islam nusantara agar lebih arif dalam
hal memberikan penilaian kepada siapa pun, terutama kepada mahasantri
dampingannya.
Ya mungkin itu
hanya sekilas cerita dari perbincangan singkat non formal, semoga menjadi
refleksi terutama bagi MSAA tercinta.
Komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah comment .. Kapan-kapan kunjungi lagi ya ..,.