Di suatu pondok, ketika belajar malam di kelas,
Roy : By the way, friends. Kenapa kita dilarang ngenet, sich ?
Burhan : Ya, karena kita ‘kan mau UNAS, so, kita harus belajar dan nggak boleh
ngenet.
Roy : padahal, kita ‘kan butuh refreshing ?
Burhan :Ya, mang bener sich, tapi pasti dibalik ini semua ada hikmanya.
Keduanya pun melanjutkan belajar hingga larut malam. Pada pukul 22.00 si Burhan pindah ke asrama untuk tidur, sedang si Roy mendekati si Odi yang kayaknya lagi bete belajar.
Roy : Eh, friend. Maw ngenet nggak ?
Odi : ya maulah. Emang gmn carax ?
Roy : kabur, gmn ?Odi : kok, kabur sich, kalau ketahuan gmn ?
Roy : nyantai, ma gue nggak bakalan kena dech, OK ?
Odi : Ok dech, yuk !
Pada waktu seluruh penghuni pondok tertidur lelap, mereka menjalankan aksinya.
Roy : Are you ready ?
Odi : Ok bos. Dah syap smua nich
Keduanya pun lompat pagar untuk pergi ke sebuah warnet. Mereka pun berinternet ria sampai tengah malam. Setelah selesai, mereka mendengar suara sepeda moor, mereka hafal betul suara sepeda motor siapa. Itu sepeda motor ustadz.
Roy : Lari, ada ustadz !
Odi : Lari …….
Sesampainya di pondok, mereka kelelahan,
Roy : hah…hah…hah nafas Q hampir habis nich.
Odi : q juga bos..
Keduanya pun masuk ke asrama untuk tidur. Pagi harinya, sesudah sholat subuh,
Odi : eh, ngomong2 qita kena nggak za ?
Roy : nyanati, aja. Nggak2 kalo kena.
Odi : Ok dech.
Ustadz pun mengabsen para santri. Di tengah2 ustadz mengabsen, ustadz itu berkata,
Ust. Dafi : Siapa yang tadi malam kabur, ngenet, nggak ijin. Lompat pagar. Hayo
siapa ? kayaknya kelas 3 ini dan pelakunya lebih dari satu anak. Hayo
maju, sebelum ustadz hitung lho, kalau nggak ada. Ya sudah 1 …… 2 ……
(pada hitungan kedua ada satu anak yang maju) kurang lebi dari satu
anak 3 ….. nggak ada. ya sudah. Yang lain boleh ngaji ke asrama mem-
baca Al-Qur’an dan membawa Al_Qur’an. (kata ustad agak geram)
Ust. Dafi : hei, Odi, siapa temen kamu ?
Odi : errrrr….errrrr……
Ust. Dafi : Siapa, hah ?
Odi : err… Roy ustadz. (katanya dengan takut)
Ustadz Dafi memanggil Roy lewat pengeras suara. Sesampainya di kantor,
Ust. Dafi : Hei, kamu tadi malam kabur ya ?
Roy : Ya, ustadz.
Ust. Dafi : truzz kenapa kamu tadi kok nggak maju ke depan ketika ustadz absen ?
Roy : Roy takut ustadz.
Ust. Dafi : kalau untuk mengakui kesalahan mengapa harus malu. Truzz, sesuai peraturan, kalau ada anak yang kabur/keluar tanpa ijin, maka ganjarannya adalah diskors selama 2 minggu dan setiap pagi harus mengisi daftar hadir, mengerti ?
Odi : duh, ustadz, masak hanya gara2 kabur harus diskors. 2 minggu lagi.
Ust. Dafi : alah, nggak ada tapi2an, keputusan nggak bisa diganggu gugat.
Roy : Ah, ya sudahlah kalau begitu.
Keduanya pun menuju asrama untuk berkemas2 untuk pulang ke rumah karena perbuatan mereka sendiri. Setiap pagi mereka harus ke pondok untuk mengisi daftar hadir. Setelah dua minggu berselang, mereka pun kembali ke pondok, di depan kantor mereka disambut oleh ustadz Dafi,
Ust. Dafi : dah kapok ?
Roy dan Odi : Sudah ustadz
Ust. Dafi : jadi ?
Roy : jadi, kami nggak akan mengulanginya lagi untuk kedua kalinya.
Ust. Dafi : Nah, begitu donk.
Keduanya pun tinggal di pondok dengan aman dan tentram sampai lulus dari pondok tersebut.
Nah, itulah sedikit cerita yang diambil dari sebuah pengalaman seorang teman. Jadi, kesimpulannya adalah penyesalan selalu datang belakangan dan semua perbuatan itu akan ada ganjarannnya.

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah comment .. Kapan-kapan kunjungi lagi ya ..,.